Es Dawet Wetok
- Home
- Katalog Rasa
- Es Dawet Wetok
Es Dawet Wetok
- Kategori : Minuman
- Masakan : Nusantara
- Daerah : Nusantara
Es Dawet Wetok
- Deskripsi
- Bahan
- Tahap Pembuatan
- Info lainnya
Es dawet wetoh adalah minuman tradisional khas Jawa yang terbuat dari tepung beras, santan, gula, dan es parut. Minuman ini memiliki rasa manis dan gurih sehingga cocok untuk segala kalangan usia.
Dawet adalah salah satu minuman menyegarkan yang menjadi salah satu kuliner khas Indonesia. Di Yogyakarta dan Jawa Tengah, minuman bercita rasa manis dan gurih ini terdiri dari santan, kinca dan juga adonan tepung beras. Di Jawa Barat, minuman jenis ini juga dikenal dengan nama cendol. Dari cerita yang berkembang, istilah cendol mungkin sekali berasal dari kata 'jendol' yang ditemukan dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Hal ini merujuk dari sensasi jendalan yang dirasakan saat butiran cendol melewati mulut. Dikutip dari buku Gastronomi Indonesia Jilid 2, jenis cendol dikenal dengan warnanya seperti cendol hijau, putih atau hitam.
Sementara itu jenis dawet yang terkenal di Jawa salah satunya dawet ayu dari Banjarnegara. Ciri khasnya adalah terdapat simbol Semar dan Gareng di gerobak penjualnya. Sementara di Kecamatan Butuh, Purworejo terkenal es dawet ireng. Kata ireng berasal dari bahasa Jawa yang artinya hitam. Warna hitam berasal dari serbuk pembakaran jerami yang dicampur dengan air hingga menghasilkan air hitam untuk pewarna. Lalu ada dawet gandul ketan khas Pleret yang dicampur dengan bubur sumsun dan grandul atau bola-bola yang terbuat dari tepung ketan dengan rasa kenyal dan gurih.
Ada juga es dawet jabung dari Ponorogo, es dawet Jepara, es dawet Semarangan dan es dawet Siwalan dari Jawa Timur. Serta es dawet telasih dari Solo dan es batil Lamongan yang terbuat dari roti tepung berasm parutan kelapa dan ragi.
1. Tepung beras
2. Tepung tapioka
3. Pasta pandan secukupnya
4. Garam
5. Air
6. Gula merah
7. Daun Pandan
8. Santan
1. Rebus santan dan tambahkan 1 lembar daun pandan lalu ½ sdt garam sampai mendidih kemudian pisahkan
2. Campur gula pasir, gula merah, dan air lalu tambahkan 1 lembar daun pandan. Masak hingga mendidih dan larut dengan sempurna kemudian angkat dan saring
3. Buatlah dawet dengan cara mencampur tepung beras, tepung tapioka, air, ½ sdt garam lalu tambahkan jus daun pandan dan suji kemudian masak sampai mengental dengan sempurna
4. Tuang adonan dawet ke dalam plastik berbentuk segitiga kemudian semprot ke dalam wadah yang berisi air es
5. Sajikan es dawet wetoh dengan menyiapkan gelas lalu tuang sirup gula merah, dawet, es batu, serta kuah santan kemudian aduk sebelum disajikan.
Dalam buku Gastronomi Indonesia Jilid 2 dijelaskan jika dawet menjadi bagian dari sejarah daerah Pati. Pada abad ke-12 di era kerajan Hindu-Budha, daerah Pati sudah maju dalam perdagangan dan pertanian. Pati terbagi tiga kadipaten yakni Kadipaten Paranggaruda (sekarang wilayah Godo, Kecamatan Winong), Kadipaten Carangsoka (Wedarijaksa) dan Kadipaten Majasem (Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil). Kala itu pernah terjadi perang besar antara Paranggaruda dan Carangsoka dan berakhir dengan Paranggaruda menjadi bagian Carangsoka di bawah pimpinan Adipati Puspa Andungjaya.
Sang Adipati pun mengangkat Ki Dalang Sapanyana sebagai punggawa Carangsoka. Ia juga menikahkan anaknya, Dewi Rayyngwulan dengan Raden Kembangjaya. Carangsoka pun tumbuh menjadi kadipaten yang makmur. Namun Radeng Kembangjaya tetap waspada dari perlawanan kembali Paranggaruda. Ia pun meminta izin kepada mertuanya untuk tinggal di daerah penghubung antara Carangsoka dan Paranggaruda. Sang Raden kemudian mengaja Dalang Sapanyana untuk menyeberangi Bengawan Siluangga dan melanjutkan perjalanan ke selatan menuju daratan Tanah Jawa yan masih semak belukar. Mereka kemudian membabat hutan dan menata lahan pemukiman.
Lalu muncul Ki Sagalo seorang penjual dawet yang ingin berbakti kepada Raden Kembangjaya. Minuman yang dijual pun menarik Sang Raden. Kembangjaya pun menggantikan nama Carangsoka dengan Pesantenan yang diambil dari jawaban Ki Sagola yang mengatakan dawt terbuat dari santen (santan). Raden Kembangjaya beranggapan santan adalah sumber dari kenikmatan minuman dawet. Tak lama, Kembangjaya memimpin Kerajaan Carangsoka dan menerima warisan Kuluk Kanigara serta Rambut Pinutung dari Raden Sukmayana yang telah meninggal dunia. Ia kemudian memindahkan pusat pemerintahan Carangsoka ke hutan kemiri dengan nama Kadipaten Pesantenan. Baca juga: Sejarah Dawet Ayu Banjarnegara Pemindahan bertepatan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit. Sejak saat itu nama Kembangjaya berubah menjadi Adipati Jayakusuma. Kadipaten Pesantenan berkembang dengan wilayah pertanian yang luas serta memiliki pelabuhan besar di Cajongan. Kelak daerah pelabuhan ini sekarang menjadi Kota Juwana di sebelah timur Kota Pati.
Kedaulatan Rasa
Rasa sendiri merupakan hasil kerja pengecap rasa (taste buds) yang terletak di lidah, pipi, kerongkongan, atap mulut, yang merupakan bagian dari cita rasa. Pada usia lanjut, pengecap rasa manusia akan berkurang jumlahnya, sehingga memerlukan lebih banyak bumbu untuk menimbulkan cita rasa yang sama.
Kondisi geografis di Indonesia menjadi alasan mengapa cita rasa makanan setiap daerah berbeda-beda. Kondisi geografis ini tentunya akan berpengaruh terhadap hasil bumi pada daerah tersebut, sehingga menciptakan keunikan pada setiap makanan di daerahnya juga ciri khas yang berbeda dari daerah lain.
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki tanah yang subur sehingga memiliki banyak rempah-rempah beragam. Hal inilah yang kemudian membuat banyak makanan khas di setiap daerah memiliki rasa kuat dari rempah-rempah. Adapun beberapa rempah-rempah khas Indonesia adalah: Lada
Kuliner merupakan konsep tentang makanan, dengan demikian kuliner merupakan elemen dari kebudayaan, yang berkaitan dengan akar historis, kolonialisme, mitos, agama, dan nilai dalam suatu masyarakat.